Friday, February 9, 2007

pulangnya sang pujangga

Oleh Anugerah Perkasa
794 words



DUKA DUNIA ada di penghujung April kali ini. Ada air mata yang tumpah. Meluap. Semua orang kehilangan Opa, yang telah membuat jatuh hati para penggemarnya. Namanya Pramoedya Ananta Toer.

Semilir duka itu berhembus dari Utan Kayu, Jakarta Timur. Pramoedya, Opa semua orang, telah menutup hidupnya di usia 81 tahun. Sangat tenang. Pada 08.55 WIB, sastrawan itu tak lagi mengucapkan kata ‘rokok’ dengan menggerakkan tangannya. Dia pun tak lagi mengucap ‘sampah’ untuk segera dikumpulkan dan dibakar. Ini adalah dua aktivitas Pram—panggilannya—selain menulis. Sikapnya juga tak pernah berubah. Bebal dalam penderitaan, sekaligus keras kepala.

“Papi minta pulang dan pasrah dengan apa pun yang akan terjadi. Dia tak mau lagi tinggal di rumah sakit,” ujar Tatiana Ananta Toer, sesaat sebelum membawa ayahnya kembali ke rumah di Utan Kayu dari Rumah Sakit Saint Corulus, Jakarta Timur. Tatiana adalah anak keempat dari perkawinan Pram dengan Maemunah Thamrin. Sedangkan dari isteri pertama, tiga anak.

Dari Maemunah, sastrawan itu memiliki lima anak. Empat perempuan dan satu pria. Mereka sangat kenal watak ayah mereka. Pram tak ingin konyol di rumah sakit. Dia ingin di rumah, dan berkumpul dengan orang-orang dekatnya.

“Orang yang keras,” ujar Tatiana.

Sore itu, para keluarga pun berunding dengan tim dokter. Saya menyaksikan bagaimana seorang Pram yang berkekuatan raksasa itu, terkulai. Tubuhnya kurus. Sejumlah selang kecil dari tabung infus dan obat diselipkan di balik kulit lengannya. Dia pun mendapat bantuan oksigen.

Kesepakatan dicapai. Dokter akan memindahkan Pram kembali ke rumahnya. Ranjang dorong dipersiapkan. Tandu juga tak ketinggalan. Saat pertama, saya melihat Pram dengan sangat dekat. Matanya terpejam. Ambulan pun bergerak ke Utan Kayu, saat hujan mulai turun rintik.

Kecemasan menyeruak malam itu. Tamu berseliweran. Selain kerabat dan warga sekitar, keluarga Ananta Toer itu mendapat dukungan dari pelbagai tokoh. Ada penulis. Sastrawan. Aktivis hingga artis, turut membesuk.

“Saya mengenal Pram lama. Jika Inggris punya Bernard Shaw, maka Indonesia punya Pramoedya,” ujar Oey Hay Djoen.

Oey mengenal Pram saat sama-sama diasingkan di Pulau Buru. Menurutnya, waktu itu dirinya mendapat nomer punggung 001, sedangkan Pram: 007. Oey bilang ini angka unik. Oey sendiri dikenal sebagai penerjemah Das Kapital milik Karl Marx. Pram, bagi Oey, adalah lawan sekaligus kawan dalam debat.

Selain Oey, ada pula para Pramis. Budiman Sudjatmiko, Yeni Rosa Damayanti, Mudji Sutrisno, hingga Rieke Diah Pitaloka. Yang belakangan dikenal sebagai artis sinetron dan aktif membela hak perempuan.

Tak hanya tangis yang meledak malam itu. Bunyi lafal surat Yasin pun dibacakan. Sahdu. Di kamar tempat Pram dirawat, dari anak, menantu hingga cucu berkumpul. Kritis. Ada yang sesenggukan, macam Angga Okta Rahman. Umurnya 13 tahun. Cucu dari Pram itu memakai baju merah dengan gambar wajah Opa kesayangannya.

Penulis buku ‘Bumi Manusia’ itu nafasnya satu-satu. Lemah sekali. Anak tertuanya, Astuti Ananta Toer menjerit. Si bungsu, Yudhistira Ananta Toer, hanya tertunduk. Dia tetap memegangi tangan kiri ayahnya. Mengusap jemarinya. Dia tahu, ayahnya tak akan menyerah begitu saja. Untung, masa-masa menegangkan lewat. Pram lebih teratur menghirup. Bahkan, dia minta rokok.

“Sedang dibeliin, Opa.”

Pram tenang untuk sementara. Tangannya bergerak-gerak lagi. Titi, secara bergantian, memegangi lengan ayahnya. Maemunah, mengusap-usap kepala suaminya. Dia ingin beban itu dibagi. Dia tahu, Pram kesakitan.

“Aggghh...”

Saya diserang kantuk hebat sekitar 01.15 dini hari. Untuk mengusirnya, kudapan pun dikunyah. Namun kantuk mengalahkan segalanya. Saya terbangun setelah satu jam lebih. Ada jeritan. Sebagian masuk ke kamar Pram. Tangis kembali meledak, melihat orangtua itu tersengal. Satu-satu. Semuanya berkumpul, termasuk Mujib Hermani, yang selama ini dikenal ikut menerbitkan karya-karya besar Pram.

Mujib memegang tangan kanan Pram. “Bung Pram, bangun Bung.”

Tangan Pram dipeganginya. Jemarinya diusap. Saya melihat, orangtua itu masih sadar. Matanya bergerak ke kanan, ke kiri. Mengerang. Kepalanya diusap oleh Maemunah. Titi juga terus menangis. Ini adalah masa kritis ketiga sejak di rumah sakit, sebelum dipindahkan malam itu. Dari 02.40-03.30 pagi, lafaz ‘Laa Ila Haa Ilallah’ diucapkan ke telinga Pram. Sesekali berhenti. Semua orang membaca dengan keharuan.

Pramoedya mulai membaik, pagi itu. Tapi, sementara saja.

Beberapa jam kemudian, adalah saat yang tak terlupakan bagi keluarga Ananta Toer. Pram menghembuskan nafas terakhirnya. Dada saya sesak. Angga menyembunyikan tangisnya di balik bantal. Cucunya yang lain, Aditya Ananta Toer, terisak di ruang tamu. Maemunah pun menangis. Setyaning Ananta Toer, membaca surah Yasin dengan lambat. Dia sesenggukan. Matanya sembab dan merah. Waktu saat itu seperti terhenti.

14.40. Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat. Peti mati sang pujangga mulai diturunkan ke liang lahat. Ada tabur bunga. Ada lagu ‘Darah Juang’ dan ‘Internasionale’ yang digaungkan. Diiringi, duka yang mendalam.

Saya melihat Goenawan Mohammad, wartawan cum sastrawan, juga hadir di tempat itu. Dia sibuk menelepon. Goenawan mengaku tak mengenal Pram secara pribadi. Pram, baginya, sudah terkenal sejak dirinya belum apa-apa.

“Saya tak mengenal dia. Tapi, Pram adalah orang yang mengagumkan.”

Perlahan, kuburan itu mulai ditinggalkan. Orang-orang pulang. Nisan kayu itu terpancang, di tengah bebungaan. Hujan pun deras. Pramoedya menyinggahi tempat terakhirnya, bumi manusia. (anugerah.perkasa@bisnis.co.id)

1 comment:

Berthine S. Soediono said...

tulisannya bagus.
diceritakan secara detail, dalam hitungan jam, saat-saat terakhir sang tokoh utama dalam bergelut dengan takdir kematian. diceritakan juga ekspresi setiap orang yang ada disana, termasuk penulisnya yang kelelahan, mengantuk dan akhirnya tertidur.

sayangnya,
tulisan ini tidak cukup mengulas tentang sepak terjang tokoh utama sebelumnya. jadi, bagi pembaca yang memiliki keterbatasan background story atau pengetahuan mengenai tokoh utama, tidak bisa merasakan efek haru n dramatis yang sebenarnya bisa ditimbulkan dari tulisan ini.