Monday, February 12, 2007

pintalan-pintalan jihad

Oleh Anugerah Perkasa
999 words



SECARIK KERTAS ada di tangan Fauzan al Anshari siang itu. Tak berapa lama, Fauzan mulai dikerubuti wartawan. Ada kamera televisi yang menyorotnya. Alat perekam pun didekatkan ke bibirnya. Fauzan mulai membaca kertas yang dibawanya. Ini adalah catatan dari Abu Bakar Ba'asyir, pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)-di mana Fauzan terlibat di dalamnya. Saat ini, dirinya menjabat sebagai Ketua Pusat Data dan Informasi di lembaga tersebut.

"Ustad Abu mengutuk keras pemerintah Australia yang mencampuri sistem hukum di Indonesia," ujar Fauzan, lantang.

Kamis pekan lalu itu adalah hari pertama Lebaran November tahun ini. Fauzan dan beberapa anggota MMI menjenguk Ba'asyir yang batal mendapatkan remisi di lembaga pemasyarakatan Cipinang Jakarta Timur. Fauzan kecewa. Padahal dirinya dan yang lainnya berharap banyak atas hadiah itu. Jauh-jauh hari, Pemerintah Australia menentang keras rencana Pemerintah Indonesia untuk memberi remisi kepada narapidana kasus terorisme.

Perdana Menteri John Howard menyebutkan bila pengurangan hukuman diberikan kepada Ba'asyir, maka itu menyulut kemarahan abadi di negerinya. Ini pernyataan keras.

Ba'asyir divonis 2,5 tahun penjara awal Maret di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dia mengajukan kasasi, tapi ditolak. Ba'asyir adalah orang yang dituduh sebagai petinggi Jemaah Islamiah (JI), sebuah organisasi internasional yang dibentuknya di Malaysia 1996. Jemaah Islamiah punya hubungan kuat dengan Al Qaeda milik Osama bin Laden. Tujuan organisasi ini adalah menciptakan negara Islam di Asia Tenggara.

Nampaknya, Ba'asyir hanya menyalin cita-cita Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang memberontak untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 1950-an. Ba'asyir-bersama rekannya Abdullah Sungkar-membentuk Jemaah Islamiah usai merekrut beberapa orang yang ikut berjihad pada perang Afghanistan 1985-1995.

Jemaah Islamiah adalah organisasi yang kokoh sekaligus cair. Ini juga seperti hantu karena tak kasat mata. Berdasarkan riset Sidney Jones dari International Crisis Group (ICG), jaringan ini punya empat wilayah-dikenal dengan 'mantiqi'. Dan Indonesia adalah mantiqi II di mana target operasi jihad sering digelar.

Mari lihat kembali bom Bali 2002. Ada ledakan dahsyat. Ada luka mendalam. Pelakunya tiga bersaudara: Ali Ghufron, Amrozi dan Ali Imron. Plus Imam Samudra. Empat orang itu yakin mereka sedang berjuang di jalan yang benar. Nyawa taruhannya. Keempatnya alumnus pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah dan pernah ke Afghanistan untuk berperang. Kecuali Ali Ghufron-yang dihukum penjara seumur hidup, semuanya divonis mati.

Tragedi Bali menambah daftar panjang pengeboman di Tanah Air. Sebelumnya bom malam Natal 2000-yang mencuatkan nama Umar al Farouq, dan Atrium Senen 2001.

Setahun setelah Bali, ada ledakan di Jakarta. Hotel JW Marriot. 12 orang tewas. Pelakunya dihukum, namun pemeran utamanya masih buron. Ada Dr Azahari Husin dan Nurdin Mohammad Top. Dua nama ini juga diduga kuat menjadi otak peledakan bom Bali 2002. Belum lagi pencarian tuntas, bom kembali meledak di depan Kedutaan Besar Australia Kuningan Jakarta 2004 lalu. 11 orang tewas.

Terakhir, ledakan di Bali awal Oktober tahun ini. Ledakan tersebut menewaskan 22 orang dan memicu kemarahan dunia. Teror masih membahana. Pencarian dikerahkan untuk menangkap pelaku utama. Kali ini nama Azahari dan Nurdin Top tak lagi disemburkan pihak kepolisian.

Awal November, dunia kembali diguncang lolosnya Umar al Farouq dari penjara Bagram di Afghanistan. Farouq dikenal sebagai salah satu petinggi Al Qaeda di Asia Tenggara. Dia juga yang menyebutkan Ba'asyir sebagai petinggi Jemaah Islamiah. Farouq mengaku kenal Ba'asyir sebagai salah satu penyalur dana operasi peledakan bom Natal 2000.

Ini dibantah keras Ba'asyir. Suami dari Mira Agustina ini ditangkap pada Juni 2002 lalu dan langsung diserahkan ke Amerika. Umar al Farouq adalah alumnus Afghanistan sekaligus instruktur perang di Mindanao, Filipina.

Mengapa saat lolos Juli lalu, dinas intelijen Amerika tak mengabarkan ke Indonesia?

Ini pun menimbulkan keheranan di negara adidaya itu. Menurut Jaksa Agung Amerika Alberto Gonzales, masalah komunikasi antara keduanya harus segera diselidiki: Mengapa CIA tak berkabar ke Indonesia? Gonzales mengatakan kelambatan ini merupakan persoalan serius yang harus segera ditangani.

Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai, Kepala Desk Antiteror Polri, mengatakan pelarian Farouq menciptakan ancaman teror baru di Indonesia. Menurut dia kembalinya Farouq dapat memberikan energi segar bagi kegiatan terorisme di Asia Tenggara. "Dia adalah orang yang berbahaya," ujar Ansyad.

Hal berbeda diungkapkan oleh Ken Conboy, ahli keamanan dan penulis buku tentang Jemaah Islamiah. Menurut Conboy, Faruq tak akan kembali ke Asia Tenggara, melainkan ke Irak. Farouq memang berdarah Irak campuran. Hal ini, kata Conboy, membuat Farouq- yang diduga merencanakan pembunuhan mantan Presiden Megawati itu bertolak ke Irak dan melanjutkan perang di sana.

Amerika masih menyimpan satu tahanan. Hambali alias Ridwan Isamuddin. Nama kecilnya Encep Nurjaman. Hambali adalah petinggi Al Qaeda di Asia, yang menerima US$76.000 dari Khalid Shaikh Mohammed-mantan bosnya, untuk melakukan sejumlah serangan. Termasuk bom Bali 2002 dan Hotel JW Marriot. Hambali pernah ke Afghanistan pada 1980-an dan bertemu Abu Bakar Ba'asyir di Malaysia.

Pria kelahiran Sukamanah, Jawa Barat itu lebih banyak berurusan dengan masalah keuangan dan logistik yang disalurkan kepada sel-sel Al Qaeda. Dia juga yang memerintahkan Ali Ghufron untuk mengeksekusi bom di Bali 2002. Instruksinya: bom diledakkan di tempat berkumpulnya warga asing. Dan Bali adalah tempat yang tepat. Seperti yang dilansir Christian Science Monitor, peledakan ini disinyalir sebagai ajang balas dendam Hambali, yang gagal meledakkan bom di Kedubes Amerika di Singapura serta tebusan nyawa teman-temannya yang mati di Afghanistan. Hambali juga disebut sebagai 'anak kesayangan' Osama.

Agustus 2003, Hambali ditangkap di sebuah apartemen di Ayutthaya, Thailand. Dia tak sendiri, tapi bersama istrinya Noralwizah Lee Abdullah-yang saat ini dipenjara oleh pemerintah Malaysia. Pemerintah Amerika dan Thailand berjanji memberikan informasi atas penahanan orang yang merekrut ratusan militan itu kepada Indonesia. Ini tak jelas. Ini sama anehnya dengan kaburnya Al Farouq. Gelap-gulita.

Ini menarik. Saat Al Farouq menyusuri jalan untuk menggalang kembali kekuatan, ada kelompok-kelompok baru dari Jemaah Islamiah yang memisahkan diri. Hambali mungkin saja, salah satu instruktur dari mereka. Umumnya terdiri dari golongan muda yang lebih militan. Punya target yang lebih keras: warga Nasrani, negara Barat dan pemerintahnya. Berani bunuh diri demi keyakinan.

Rata-rata kelompok ini adalah hasil gemblengan Mindanao dan Afghanistan. Dua tempat yang diyakini sebagai lokasi latih paling radikal di dunia. Plus fatwa Al Qaeda 1998 lalu, membuat lengkap seseorang berubah menjadi orang untuk menyorongkan nyawanya demi sebuah keyakinan. Bisa jadi, bila al Farouq tak kunjung ke Indonesia, ada sekelompok pemuda yang rela meraih 'nirwana' itu. Tentu, dalam bentuk kematian.(anugerah.perkasa@bisnis.co.id)

No comments: